Header Ads

Aku Darius, Bukan Jokowi


Di kamar yang megah dan nyaman ini aku terbaring, berusaha memejamkan mata untuk segera tertidur. Tetapi sampai selarut ini, aku belum bisa tertidur juga. Kutatap langit-langit istana yang berlapis emas. Seluruh penghibur istana tidak bisa memenangkan hatiku yang sangat gelisah. “Mengapa aku bisa sampai salah langkah seperti ini sehingga orang kepercayaanku sampai mengalami hukuman kejam ini?”, gumanku sambil berbaring penuh penyesalan. Daniel bukan Ahok, orang kepercayaanku itu, tangan kananku kalau bisa dikatakan seperti itu, sedang terkurung di dalam gua singa. Dikunci dengan segel kerajaan sehingga tidak seorangpun boleh melepaskannya sampai waktu yang ditetapkan dan dia boleh dilepaskan. Tetapi apa harapan baginya, singa-singa itu sudah dibuat kelaparan, tidak mungkin ada harapan. Memikirkan hal ini membuatku semakin gelisah, makin otakku bekerja sampai tidak ada kantuk lagi tersisa di mata ini.

Aku berusaha mengingat-ingat kejadian per kejadian di hari ini. Di mulai keinginanku untuk mengangkat Daniel sebagai tangan kananku di pemerintahan. Aku memiliki 120 orang wakil raja dan ada tiga pejabat tinggi yang menjadi semacam koordinator membawahi wakil raja ini, salah satunya adalah Daniel. Aku mengenalnya sejak dia menjadi penasihat di pemerintahan sebelumnya. Daniel seorang yang memiliki integritas tinggi, setia, tidak ada kelalaian ataupun kesalahan didapati padanya. Aku telah menetapkan dihatiku, dialah yang pantas menempati posisi tertinggi setelah aku. Satu kelemahan Daniel, dia orang minoritas, dia bukan orang Persia seperti kebanyakan kami. Kaumnya hanya sisa-sisa bangsa yang sudah dikalahkan dalam perang. Mereka orang buangan di negeri ini.

Dari intelejenku sudah kudengar, kasak-kusuk wakil-wakil raja yang dibantu dua orang pejabat tinggi merancang rencana untuk menjatuhkan Daniel. Dari segala sisi mereka sudah menyerang Daniel dari segi pemerintahan, tetapi etos kerjanya tidak ada yang bisa mengalahkan. Integritasnya yang tinggi membuatnya hampir tidak ada celah lagi untuk menjatuhkan dia. Sampai pagi ini mereka datang menghadap aku, kebetulan tidak ada info apapun dari intelejenku, sehingga tanpa kecurigaan apapun aku terima mereka. Dengan mengatasnamakan rakyat yang diwakili oleh para bupati, mereka berusaha menonjolkan kelebihan kami sebagai rakyat Persia. Ternyata ini jebakan untukku, tanpa sadar aku menyetujui rancangan undang-undang itu dan memeteraikannya sehingga tidak dapat dicabut lagi.

Daniel sekali lagi bukan Ahok, tetap menjalankan kewajiban agamanya. Dalam kesetiaannya terhadap Tuhannya, dia tidak takut untuk tetap melaksanakan ibadahnya. Dan ini yang digunakan untuk menjebaknya. Orang-orang ini segera mendapatkan pelanggaran Daniel terhadap undang-undang ini. Mereka membawa perkara ini ke hadapanku. Undang-undang yang telah ditetapkan ini, tidak ada celah sama sekali untuk membatalkannya. Aku kumpulkan ahli-ahli hukum ternama di negeri ini, tidak ada satupun yang bisa membatalkan peraturan ini. Akhirnya saat senja telah turun dan hari mulai gelap, tidak ada lagi usaha yang dapat menolong Daniel lepas dari hukuman ini. Daniel harus dimasukkan ke gua singa. Sekumpulan orang pembenci Daniel, mereka datang bergegas ke hadapanku. Dengan berat hati kukabulkan permintaan mereka. Aku mengeluarkan surat perintah dan Daniel segera dilemparkan ke dalam gua singa. Sebelum dia dilemparkan aku sempat memberi penghiburan kepadanya, ” Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!” Karena tidak ada lagi yang bisa menolong dia, bahkan akupun tidak sanggup melepaskan dia dari hukuman ini. Aku memeteraikan gua ini dengan cincin meteraiku sendiri dan juga para pembesar ikut memeteraikannya juga, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat membuka gua ini sampai masa hukuman ini selesai, yaitu saat matahari terbit di pagi nanti.

Sayup-sayup kudengar suara kokok ayam, aku benar-benar tidak tidur sepanjang malam ini. Segera kuberlari menuju gua singa itu, dengan lirih kupanggil Daniel dari gua singa ini, “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?” Kaget kumendengar jawaban Daniel yang kupikir sudah menjadi santapan singa-singa itu, “Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.”

Aku segera memberi perintah, orang-orang yang telah menuduh Daniel mereka kulemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.

Ini nasehatku untuk Presiden Indonesia, “Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah bagi pandai emas.” Bersihkan sekeliling Anda dari orang-orang yang penuh kelicikan, sekalipun itu wakilmu. Seperti aku sudah membersihkan negeriku, Persia ini dari orang-orang munafik ini.” Aku, Darius, Raja Negeri Persia, dan aku bukan Jokowi.
nb: Kalau perlu singa-singa lapar untuk menggebuk orang-orang itu, aku bisa kirimkan dari negeri Persia.

Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak.

No comments

Powered by Blogger.