Aku Paulus, Bukan Ahok. Aku Ahok, Bukan Paulus
Di lantai penjara bawah tanah yang dingin dan kotor ini aku terduduk. Kaki terpasung, punggung yang masih mengeluarkan darah bekas pukulan, terkurung di penjara Filipi. Kuingat pagi ini, ketika seorang perempuan peramal yang mengganggu rombongan kami dengan teriakan-teriakannya selama berhari-hari. Seorang yang kerasukan roh jahat yang tidak bisa mengendalikan mulutnya. Dengan teriakan keras, kuusir roh jahat yang menguasainya sehingga dia menjadi waras kembali. Tiba-tiba, orang-orang mengelilingi aku. Ternyata majikan-majikan dari si perempuan ini, aku ditangkap, diseret ke hadapan para hakim di pasar di tengah kerumunan massa. Tuduhan yang tidak berdasar, dituduhkan kepadaku. Mereka menggerakkan massa untuk mendukung mereka. Hasutan ini segera dimakan massa, mereka bangkit bersatu menentang aku. Hakim yang diintimidasi segera menjatuhkan hukuman, tanpa mendengarkan sedikitpun pembelaan dariku.
Di hadapan pengadilan massa di pasar, aku disidang dan langsung dianggap bersalah. Diperlakukan sebagai penjahat, oleh pengadilan jalanan. Tongkat pemukul berkali-kali dipukulkan ke punggungku. Massa mengintimidasi kepala penjara sehingga aku di masukkan ke penjara sebelah dalam, karena mereka mengancam akan menghukum mati kalau sampai aku terlepas. Jadi aku masuk penjara, dengan kaki terpasung. Benar-benar seperti penjahat kelas berat. Pengadilan massa yang sangat brutal. Sudah tahukan apa yang kulakukan sehingga mendapat ganjaran ini? Aku menyembuhkan seorang perempuan peramal yang kerasukan setan, dan tuannya merasa kehilangan penghasilan karena tidak bisa lagi mempergunakan dia sebagai mata pencahariannya sehingga menggerakkan massa untuk melawanku. Aku Paulus, bukan Ahok.
Kisahku dimulai di pulau Seribu, ketika aku memberikan pidato di hadapan para nelayan. Saat itu aku mendorong semua nelayan ikut program yang pemerintah adakan, yaitu budidaya ikan kerapu. Aku yakinkan mereka bahwa walaupun mereka tidak lagi memilihku karena hasutan politikus dengan menggunakan agama bahwa haram memilih aku, program ini akan tetap terlaksana. Penduduk pulau bertepuk tangan tanda mereka setuju dengan pernyataanku. Beberapa hari kemudian seorang dosen menggunakan caption untuk merubah arti apa yang telah kukatakan. Provokasinya berhasil, politikus busuk yang memang mencari cara menjatuhkan aku seperti mendapatkan senjata untuk melawan aku. Berjilid-jilid demo yang menggunakan angka-angka aneh dijalankan yang tujuannya mengintimidasi pemerintah untuk memenjarakan aku. Akhirnya tanggal 9 Mei 2017, aku masuk penjara. Aku Ahok, bukan Paulus.
Mengupas kedua peristiwa di atas mendatangkan kegeraman di hati. Keadilan bisa digeser oleh intimidasi massa. Dengan uang dan kekuasaan bahkan agama digunakan untuk menegakkan kebenaran diri sendiri. Paulus seperti juga Ahok berniat menegakkan kebenaran di kotanya, tetapi apa yang mereka dapatkan pengadilan massa yang brutal, pemaksaan kehendak, ancaman dan intimidasi mewarnai pengadilan ini.
Satu peninggalan yang abadi dari Paulus adalah suratnya kepada jemaat di Filipi. Dalam suratnya ini dia menjelaskan dengan gamblang bagaimana cara pandangnya terhadap kejadian tersebut. Saya belum menerima ‘Surat Ahok kepada penduduk DKI Jakarta’; saya akan bahas kalau surat tersebut sudah muncul. Karena belum ada surat Ahok ini, maka kita akan membahas surat Paulus ini, Ahok juga sering mengutip tulisan dari kitab Filipi ini.
Cara pandang Paulus:
1. Aku dipenjarakan karena Kristus.
Tidak ada alasan lain selain karena Kristus yaitu kebenaran yang diberitakan oleh Paulus. Dari rekam jejak Paulus, seperti juga Ahok, tidak ada sesuatupun yang dapat menyeret mereka masuk ke penjara. Hanya pengadilan massa yang brutal yang bisa memenjarakan mereka.
2. Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Ahok sering mengutip perkataan ini mati adalah keuntungan karena hidupnya sudah digunakan untuk menegakkan kebenaran. Baik hidup atau mati, mereka menganggap bahwa dimanapun mereka, misi yang telah ditetapkan sebelum lahir (destiny), sudah dijalani dengan totalitas. Sehingga tidak ada penyesalan kalau sampai mati selagi menjalankan misi ini.
3. Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.
Hidup ini berat kalau semua beban masa lalu, persoalan di masa lalu, penolakan di masa lalu di bawa terus sampai saat ini. Paulus telah melupakan apa yang telah terjadi di belakang ini. Saatnya akan tiba sewaktu Ahok bercerita kepada anak cucunya mengenai hikmah dari peristiwa ini. Sejak kejadian ini di Indonesia terjadi pembaharuan besar-besaran dalam kehidupan bernegara. Tidak ada lagi perkataan minoritas dan mayoritas, semua warga negara diperlakukan sama di mata hukum. Seperti Martin Luther King, Jr mengubah praktek diskriminasi di Amerika, Ahok mengubah praktek diskriminasi di Indonesia.
Saya mengusulkan Ahok mendapat gelar Pahlawan Revolusi Mental, sehingga bangsa ini selalu ingat untuk mengubah pola pikir diperlukan pengorbanan seorang Ahok.
Salam Hikmat, Bijaksana dalam Bertindak


No comments