Saya, Saya Sendiri, Yudas vs JK
Hai! Perkenalkan saya Yudas, Yudas Iskariot tepatnya. Setelah ribuan tahun, baru muncul lagi perkataan yang pernah saya ucapkan. “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Akulah yang pertama kali mempopulerkan perkataan ini. Saat kulihat seorang perempuan menuangkan minyak wangi yang mahal dari buli-buli pualam. Keren kan? Saya pojokkan si Maria, supaya dia merasa bersalah. Tapi apa jawaban Yesus? Sebelum melanjutkan, mari kita dengarkan perkataan orang di jaman ini.
Fenomena ribuan karangan bunga di balai kota memunculkan orang-orang yang meniru perkataanku. “Tidak perlu hamburkan uang untuk kirimkan karangan bunga itu norak dan kuno.” Terlepas hoax atau tidak, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seperti perkataanku kepada Maria. Apa yang ingin disampaikan? Biar Ong yang bicara, karena tidak enak membicarakan kejelekan sendiri di depan orang.
Dalam kitab suci telah ditulis bahwa Yudas suka mencuri uang yang dia simpan sebagai bendahara. Perilaku yang sama yang mendorong orang akan mengatakan perkataan yang sama. Seorang koruptor akan membicarakan mengenai uang saja dan memperhalusnya dengan kata-kata lebih baik diberikan kepada orang miskin. Padahal dalam hati seorang yang cinta dan mendewakan uang, mereka kepingin juga memilikinya.
Siapa itu orang miskin? Waktu JJ masih kecil, saya sekeluarga suka membantu keluarga pendeta dekat perumahan. Tiap bulan kami kunjungi dan berikan uang untuk beli susu anaknya. Selagi ngobrol panjang lebar, topik beralih ke cuci baju dan bersihkan rumah. Kami terhenyak mendengarkan bahwa mereka menyewa tukang cuci gosok dan pembersih rumah pocoan. Kami yang lebih sibuk dari mereka, malah mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Apa saja yang dikerjakan mereka sepanjang hari? Sejak itu kami tidak lagi tergerak untuk membantu orang miskin seperti ini. Kemiskinan adalah pilihan, bukan nasib. Mereka memilih untuk hidup miskin, mengapa kita harus bantu?
Siapa itu orang kaya? Saya senang bisa mengenal Daniel Alexander, orang kaya di Papua. Setiap manusia diberikan potensi khusus yang bila dikembangkan, maka akan menjadikan dirinya kaya. Kelebihan Beliau adalah membukakan potensi anak didiknya dengan membiayai kuliah sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Bapak Daniel tidak sekedar kaya, dia memperkaya orang lain dengan memunculkan potensi terpendam anak didiknya.
Sesuai dengan permintaan Yudas, kita akan bahas mengenai jawaban Yesus. “”Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.” Yesus menyoroti bahwa orang-orang miskin akan selalu ada di setiap generasi, di setiap waktu. Mengapa ini terjadi? Karena kemiskinan yang menjadi pilihan bagi orang-orang ini. Tetapi mereka menganggap kemiskinan adalah nasib. Yesus seumur hidup-Nya yang pendek di bumi ini, Dia tidak pernah memberikan uang untuk pengemis. Kenapa? Percuma! Seorang pengemis yang diberikan uang yang besar hari ini, besok akan lebih rajin lagi jadi pengemisnya.Tapi kita tetap harus menolong orang yang terbelenggu kemiskinan? Bagaimana caranya? Yesus melakukannya dengan cara membukakan potensi yang tersumbat karena keterbatasan mereka. Contohnya pengemis buta di Yerikho, Yesus memberikan kesembuhan untuk matanya sehingga pengemis ini bisa mengembangkan potensi dirinya setelah bisa melihat. Saya melihat hal yang sama juga dilakukan Ahok. Dia tidak mau memberikan KJP yang bisa dicairkan (dengan kata lain memberikan uang) karena pasti akan diselewengkan penggunaannya. Jadi ingat waktu bantu OTA, saya tidak berikan uangnya ke keluarga ini, tetapi langsung bayarkan ke sekolah. Pendidikan melalui KJP dari pemerintah DKI diharapkan akan membukakan potensi anak didik untuk dapat mencapai pendidikan tinggi. Yang dulunya hanya impian karena keterbatasan dana.
Satu lagi jawaban Yesus sewaktu orang Farisi menyerang-Nya tentang masalah keagamaan, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.” Sejak jaman dua ribu tahun yang lalu, ahli agama menggunakan aturan-aturan agama untuk menghukum orang yang tidak bersalah. Terdengar familiar di sini yah? Ahok yang tidak bersalah dikriminalisasi oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli agama. Yesus menegur mereka dengan hukum belas kasih. Belas kasihan adalah hukum yang tertinggi, semua aturan yang dibawahnya harus tunduk kepada hukum belas kasihan ini. Seperti UUD 1945 adalah hukum tertinggi di negera Indonesia, maka setiap UU yang dibuat kemudian harus taat kepada hukum di atasnya. Belas kasihan artinya menganggap orang/manusia lebih berharga daripada aturan apa pun. Hubungan atau relasi lebih berharga daripada pemaksaan kehendak. Kiranya belas kasihan semakin nyata di Indonesia. Amien.
Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak
Fenomena ribuan karangan bunga di balai kota memunculkan orang-orang yang meniru perkataanku. “Tidak perlu hamburkan uang untuk kirimkan karangan bunga itu norak dan kuno.” Terlepas hoax atau tidak, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seperti perkataanku kepada Maria. Apa yang ingin disampaikan? Biar Ong yang bicara, karena tidak enak membicarakan kejelekan sendiri di depan orang.
Dalam kitab suci telah ditulis bahwa Yudas suka mencuri uang yang dia simpan sebagai bendahara. Perilaku yang sama yang mendorong orang akan mengatakan perkataan yang sama. Seorang koruptor akan membicarakan mengenai uang saja dan memperhalusnya dengan kata-kata lebih baik diberikan kepada orang miskin. Padahal dalam hati seorang yang cinta dan mendewakan uang, mereka kepingin juga memilikinya.
Siapa itu orang miskin? Waktu JJ masih kecil, saya sekeluarga suka membantu keluarga pendeta dekat perumahan. Tiap bulan kami kunjungi dan berikan uang untuk beli susu anaknya. Selagi ngobrol panjang lebar, topik beralih ke cuci baju dan bersihkan rumah. Kami terhenyak mendengarkan bahwa mereka menyewa tukang cuci gosok dan pembersih rumah pocoan. Kami yang lebih sibuk dari mereka, malah mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Apa saja yang dikerjakan mereka sepanjang hari? Sejak itu kami tidak lagi tergerak untuk membantu orang miskin seperti ini. Kemiskinan adalah pilihan, bukan nasib. Mereka memilih untuk hidup miskin, mengapa kita harus bantu?
Siapa itu orang kaya? Saya senang bisa mengenal Daniel Alexander, orang kaya di Papua. Setiap manusia diberikan potensi khusus yang bila dikembangkan, maka akan menjadikan dirinya kaya. Kelebihan Beliau adalah membukakan potensi anak didiknya dengan membiayai kuliah sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Bapak Daniel tidak sekedar kaya, dia memperkaya orang lain dengan memunculkan potensi terpendam anak didiknya.
Sesuai dengan permintaan Yudas, kita akan bahas mengenai jawaban Yesus. “”Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.” Yesus menyoroti bahwa orang-orang miskin akan selalu ada di setiap generasi, di setiap waktu. Mengapa ini terjadi? Karena kemiskinan yang menjadi pilihan bagi orang-orang ini. Tetapi mereka menganggap kemiskinan adalah nasib. Yesus seumur hidup-Nya yang pendek di bumi ini, Dia tidak pernah memberikan uang untuk pengemis. Kenapa? Percuma! Seorang pengemis yang diberikan uang yang besar hari ini, besok akan lebih rajin lagi jadi pengemisnya.Tapi kita tetap harus menolong orang yang terbelenggu kemiskinan? Bagaimana caranya? Yesus melakukannya dengan cara membukakan potensi yang tersumbat karena keterbatasan mereka. Contohnya pengemis buta di Yerikho, Yesus memberikan kesembuhan untuk matanya sehingga pengemis ini bisa mengembangkan potensi dirinya setelah bisa melihat. Saya melihat hal yang sama juga dilakukan Ahok. Dia tidak mau memberikan KJP yang bisa dicairkan (dengan kata lain memberikan uang) karena pasti akan diselewengkan penggunaannya. Jadi ingat waktu bantu OTA, saya tidak berikan uangnya ke keluarga ini, tetapi langsung bayarkan ke sekolah. Pendidikan melalui KJP dari pemerintah DKI diharapkan akan membukakan potensi anak didik untuk dapat mencapai pendidikan tinggi. Yang dulunya hanya impian karena keterbatasan dana.
Satu lagi jawaban Yesus sewaktu orang Farisi menyerang-Nya tentang masalah keagamaan, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.” Sejak jaman dua ribu tahun yang lalu, ahli agama menggunakan aturan-aturan agama untuk menghukum orang yang tidak bersalah. Terdengar familiar di sini yah? Ahok yang tidak bersalah dikriminalisasi oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli agama. Yesus menegur mereka dengan hukum belas kasih. Belas kasihan adalah hukum yang tertinggi, semua aturan yang dibawahnya harus tunduk kepada hukum belas kasihan ini. Seperti UUD 1945 adalah hukum tertinggi di negera Indonesia, maka setiap UU yang dibuat kemudian harus taat kepada hukum di atasnya. Belas kasihan artinya menganggap orang/manusia lebih berharga daripada aturan apa pun. Hubungan atau relasi lebih berharga daripada pemaksaan kehendak. Kiranya belas kasihan semakin nyata di Indonesia. Amien.
Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak


No comments