Header Ads

The Power of Bacot


Senangnya melihat ribuan kiriman bunga papan untuk Ahok. Berbagai rangkaian kata-kata dijalin untuk menunjukkan simpati, rasa sayang, penghiburan, bahkan curhatan dari yang tidak bisa move on. Gubernur yang dicintai rakyatnya, seperti kata Amsal: ”Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” Setelah digempur berbagai fitnah, issue miring, tudingan korupsi, semua dapat dimentahkan, malah namanya semakin bersinar. Masyarakat semakin mengasihi dia, kekayaan terbesar Pak Ahok sekarang adalah nama baik dan dikasihi orang. Bagi saya yang berusaha move on, memang tidak mudah mengakui. Calon gubernur nomor 3, cuma modal bacot, tidak punya track record yang baik, bisa-bisanya jadi gubernur. (Saya janji, ini terakhir kalinya. Saya sudah move on, kok.)

Bacot artinya banyak omong, berisik dari kamus gaul. Memang kita menghasilkan sesuatu dari perkataan kita. Amsal berkata, “Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan.” Dari perkataan yang dikeluarkan akan menghasilkan buah perkataan. Buah yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diperkatakan. Ivonne Oswald, pengarang buku “Every Word Has Power”, dengan perkataan dapat mengubah hidup kita. Perkataan bisa mengubah kesehatan, kebahagiaan, relasi, kekayaan bahkan membawa kelimpahan. Kembali ke Ahok, saya pelajari sebelumnya biasanya orang yang pintar ngomong tidak pintar kerja, hanya di Ahok saya lihat orang yang pintar ngomong juga pintar kerja. Ahok fenomena baru bagi saya, orang dengan kemampuan yang sangat jarang dimiliki orang lain.

Karen Berg, penulis “Loud & Clear”, mengajarkan untuk mengatakan apa yang kita maksudkan dan mendapatkan apa yang kita inginkan, caranya nyatakan secara keras dan jelas. Ahok adalah contoh yang menampilkan suara kerasnya. “Pemahaman nenek loe” adalah contoh kerasnya perkataan dia dan betapa jelasnya di mana dia berpihak. Silahkan bandingkan sendiri dengan pesaingnya di Pilgub lalu (keberpihakan, nenek loe). Transparasi (clear), terlihat apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Kita bisa membaca seseorang dari perkataan yang dikeluarkannya.

Apa yang diajarkan Amsal mengenai perkataan? Mari kita bahas satu persatu

1. Dari Hati
Amsal berkata, ”Dari hati orang yang bijaksana keluarlah perkataan yang cermat dan meyakinkan.” Perkataan yang bijaksana keluar dari hati yang bersih. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan adalah nasehat yang sering didengung-dengungkan bahkan oleh seorang Aa yang terbukti tidak bisa menjaga hatinya masih menyatakan jagalah hati. (Lebih baik jaga bini saja). Dari hati yang bersih, akan mengeluarkan hal-hal yang bersih juga, sesuatu yang cermat dan meyakinkan.

2. Dari Pikiran
“Perkataan orang bijaksana mengungkapkan pikiran yang dalam”, demikian dikatakan Amsal. Pikiran yang terlatih untuk menganalisa dan menyelidiki sehingga didapatkan pengertian yang benar akan menjadikan perkataan yang keluar menjadi bijaksana. Jadi apa yang perlu dipikirkan? Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat di Filipi, ini yang harus dipikirkan: semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Asal memenuhi kriteria di atas, silahkan memenuhi pikiran. Di luar itu, segera singkirkan.

3. Dari Mulut
Seperti yang dikatakan Karen Berg, perkataan kita harus cukup keras artinya dapat terdengar, dan jelas artinya bisa dimengerti lawan bicara. Amsal mengajarkan juga, “perkataan yang manis lebih meyakinkan”. Perkataan yang manis lebih dapat diterima orang. Setelah manis, tambahkan ramah, seperti tertulis, “Perkataan yang ramah adalah seperti madu—enak dan menyehatkan.” Siapa yang akan menolak madu, kecuali dimadu yah? Perkataan yang ramah enak dan menyehatkan bagi yang mendengarkannya. Satu lagi yang kriteria perkataan: lembut. Amsal menjelaskan, “Dengan kesabaran engkau akhirnya akan berhasil karena perkataan yang lembut dapat mematahkan perlawanan yang keras.” Bagaimana menghadapi perlawanan yang keras? Ahok menunjukkan kelasnya sewaktu debat terakhir di Pilkada DKI. Setiap serangan dari kubu sebelah, selalu dijawab dengan perkataan yang lembut. Dan kita lihat bagaimana kubu sebelah seperti kehabisan ide untuk menyerang Ahok.

Semoga semua perkataan-perkataan saya bisa membuahkan kebaikan bagi setiap kita.

Salam Hikmat, Bijaksana Dalam Bertindak.

No comments

Powered by Blogger.